InfoBKL.com - Menyajikan Informasi Menarik Seputar Bengkulu dan Sekitarnya

Mengenal dan Meneladani Sosok Pahlawan Bengkulu

fatmawati pahlawan bengkulu

Bengkulu merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang ibu kotanya berada di Kota Bengkulu. Provinsi ini letaknya di bagian barat daya Pulau Sumatera. Sejak diselenggarakannya Perjanjian London tahun 1824, Bengkulu diberikan ke Belanda, dengan tebusan Malaka dan juga penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung.

Sejak saat perjanjian tersebut, Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda. Tahun 1930-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan beberapa aktivis pendukung kemerdekaan, termasuk Sukarno. Seperti provinsi lain yang ada di Indonesia, terdapat pula figur pahlawan Bengkulu yang memiliki jasa yang berharga bagi Indonesia, dan sosok itu adalah Ibu Fatmawati.

Ibu Fatmawati merupakan sosok pahlawan nasional dari Bengkulu dan juga merupakan istri dari Ir. Soekarno. Karena jasa dari Ibu Fatmawati, Indonesia bisa meraih kemerdekaannya yang sejati. Nah, seperti apakah sosoknya? Dan bagaimana sifat yang patut kita teladani? Simak ulasan tentang mengenal dan meneladani sosok pahlawan Bengkulu di bawah ini, ya!

Biografi Ibu Fatmawati

Fatmawati yang mempunyai nama asli Fatimah merupakan istri dari Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno. Ia lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 dan meninggal dunia di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980 pada usia 57 tahun. Fatmawati merupakan Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 sampai tahun 1967 sekaligus istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.

Pada tanggal 1 Juni 1943, tepat usia 20 tahun ia menikah dengan Soekarno, yang akan menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dianugerahi lima orang putra dan putri, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Sosok Keturunan Bangsawan

Fatmawati merupakan putri tunggal keluarga Hassan Din dan Siti Chadijah yang lahir pada Senin, 5 Februari 1923, pukul 12.00 WIB di Bengkulu. Tidak banyak yang tahu bahwa Fatmawati sesungguhnya keturunan Kerajaan Indrapura Mukomuko. Sang ayah, Hasan Din, adalah keturunan ke-6 dari Kerajaan Putri Bunga Melur.

Putri Bunga Melur bermakna putri yang cantik, sederhana dan bijaksana. Tidak heran jika Fatmawati memiliki sifat bijaksana dan mengayomi. Meski berdarah bangsawan, dulu Fatmawati kecil tidak dimanjakan. Sang Ayah dari Fatmawati, Hasan Din, awal mulanya bekerja sebagai pegawai perusahaan Belanda di Bengkulu, memilih mengakhiri jabatannya sebab tak mau keluar dari Muhammadiyah. Sejak itu pun, Hassan Din kerap berganti usaha dan pindah ke beberapa kota di kawasan Sumatera bagian Selatan.

Jasa Ibu Fatmawati

Ibu Negara Indonesia Pertama ini dikenal sebagai wanita yang berjasa dalam usahanya menjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Bendera merah putih ini berawal dari ide yang diambil dari panji kebesaran Majapahit. Bendera merah putih dengan tegas dikibarkan pada upacara pertama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pengibaran sakral ini dilaksanakan di pekarangan rumah Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur no 56, Jakarta. Bendera historis itu akhirnya menjadi keramat bangsa dengan menyandang gelar “Sang Saka Merah Putih” yang terpelihara sampai sekarang.

peresmian patung monumen fatmawati bengkulu

Peresmian monumen pahwalan oleh Presiden RI Joko Widodo via setkab.go.id

Pandai dalam Kesenian Menari

Sudah banyak yang mengetahui bila Bung Karno adalah sosok pengagum karya seni. Ketertarikan terhadap seni pula yang membuat dirinya terpikat hati pada sosok Fatmawati. Waktu itu, Fatmawati muda menjadi pelakon utama dalam Sendratari Rainbow/ Poetri Kentjana Boelan yang ditampilkan oleh sanggar pertunjukan Monte Carlo.

Sendratari tersebut menceritakan seorang gadis yatim piatu dari keluarga bangsawan Kerajaan Sungai Lemau yang dijadikan anak oleh seorang pembesar pasukan penjajah Inggris. Pada sendratari tersebut, Fatmawati menampilkan Keahliannya dalam menari, khususnya tari Melayu. Sedangkan, Bung Karno waktu itu hadir sebab menjadi pembina sanggar.

Keahliannya itulah yang ternyata diturunkan pada diri dua putrinya, Rachmawati dan Megawati. Kemampuan tari keduanya bahkan mendapatkan pujian dari Soekarno, Sang Ayah, yang mengatakan tarian mereka menggairahkan.

Harapan Terakhir

Fatmawati meninggal dunia pada tanggal 14 Mei 1980 di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur akibat serangan jantung setelah ibadah umrah di Mekah. Jenazahnya disemayamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Sebelum meninggal, Fatmawati masih setia memikirkan Indonesia dalam benak nya. Fatmawati masih memikirkan dan berkata, “Datang ke Mekah sudah menjadi cita-citaku.

Setiap hari aku melakukan zikir dan mengucapkan syahadat serta memohon supaya diberi kekuatan untuk dekat kepada Allah, juga memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fii sabilillah. Aku berdoa untuk harapan seperti saat semula, yaitu Indonesia Merdeka.”

Atas jasa pengabdiannya kepada negara itulah, pemerintah melewati Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 pada 4 November 2000 meresmikan gelar Pahlawan Nasional kepada Ibu Fatmawati. Nama Fatmawati pun diabadikan sebagai nama jalan ataupun rumah sakit.

Bukan itu saja, di Kota Bengkulu yakni kota kelahiran Fatmawati, pemerintah setempat mengenangnya dengan mengabadikan nama Fatmawati menjadi nama bandara yang menggantikan nama sebelumnya, Bandar Udara Padang Kemiling, pada tanggal 14 November 2001. Peresmian perubahan nama itu dipimpin oleh putrinya yang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Demikianlah, ulasan artikel tentang mengenal dan meneladani sosok pahlawan Bengkulu, yakni Ibu Fatmawati. Sebagai generasi muda Indonesia, sudah sepatutnya kita meneruskan perjuangan para pahlawan yang dahulu. Meskipun negeri ini telah merdeka, tetapi hal tersebut bukanlah puncak dari segalanya. Seperti harapan dari Ibu Fatmawati di atas serta sifat-sifat semangatnya dalam negeri ini yang patut kita teladani. Semoga artikel ini bermanfaat. Salam kemerdekaan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *